Baharudin Lopa, Kesatria Jaksa Agung yang Adil nan Pemberani dari Bumi Pertiwi

  • Whatsapp
Baharudin Lopa Via Tirto.id
Baharudin Lopa Via Tirto.id

Kepohkepoh.com – Sudah tidak usang lagi kita sering mendengar begitu banyak berita para pejabat yang korupsi. Namun, tahukah kalian bawasannya negara kita ini dulu mempunyai seorang jaksa kelewat akan kejujurannya.

Beliau melarang istrinya sendiri naik mobil dinas ‘hanya‘ untuk pergi kepasar. Pernah menolak pemberian 10.000$ AS dari teman masa kecilnya, dan beliau juga sering pinjam sepatu ajudannya.

Muat Lebih

Yup, siapa dia ? beliau adalah Baharudin Lopa.

Baharudin Lopa lahir di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada tanggal 27 Agustus 1935. Beliau adalah jaksa agung di era presiden Gusdur. Karena pribadinya yang sangat sederhana dan ekstrem dalam menegakkan keadilan serta berbagai macam kasus korupsi, Gusdur pun mempercayai untuk memegang jabatan strategis itu.

Sosok Baharudin Lopa memang sangat berbeda dengan kebanyakan pejabat yang kita kenal, khususnya untuk di era sekarang ini. Saat menjabat menjadi kejaksaan tinggi ( Kajati ) Sulawesi Selatan, Loppa menulis di surat kabar.

” Jangan berikan uang kepada para jaksa. Jangan coba – coba menyuap para penegak hukum, apapun alasannya ! “

Baharudin Lopa
Jaksa Agung Baharudin Lopa via (kaskus.co.id)

Di Usianya yang Sangat Muda, Baharudin Lopa Sudah Mengemban Amanah Jabatan di Pemerintahan

Di usianya yang baru menginjak 23 tahun dan statusnya masih menjadi mahasiswa hukum di Universitas Hasanuddin, Lopa di minta untuk menjadi jaksa di Kajari Makassar. Selama 2 tahun disana dan prestasinya di bidang hukup sangat baik, kemudia beliau diangkat menjadi bupati Majene di usianya yang masih 25 tahun. Usia yang sangat muda 🙂 .

Di saat usianya yang masih 25 tahun itu juga, beliau ditugaskan untuk menyelesaikan berbagai macam kasus hukum yang terjadi di Majene.

Waktu itu, ada seorang penguasa perang asal Mandar bernama Andi Selle.

Andi Selle merupakan seorang komandan batalyon 710 yang terkenal akan kekayaannya karena terlibat kasus penyelundupan kopra.

Baharudin Lopa pernah ditawarkan uang untuk mendukung bisnis Selle. Lopa kemudian mengatakan.

” Kebijakan pemerintah itu harus yang terbaik bagi rakyat, bukan untuk kepentingan penguasa. ” Ucapnya

Tak disangka – sangka setelah mengucapkan hal tersebut, kehidupan lopa mulai terusik. Nyawanya sering diancam untuk dibunuh.

Selle kemudian mengajak Lopa untuk adu tembak, tetapi Lopa menolaknya. Setelah menolak ajakan duel tersebut, tiap hari Selle selalu meneror Lopa, bahwa Lopa akan diculik dan diinterogasi.

Keberuntungan berpihak pada Lopa, saat itu kapten dari satuan Kepolisian bernama Andi Dadi melindungi nyawa Lopa.

Seusai menjadi bupati, ia kembali menjadi jaksa di Kejaksaan tinggi Maluku dan Irian Barat sebelum menjadi kepala kejaksaan tinggi negeri di Ternate.

Ada 1 hal kisah menarik ketika di Ternate, Lopa pernah diberikan satu truk durian. Ia menolaknya dan menuruh mobil itu untuk kembali. Ucap Hamzah Gubes Universitas Trisakti.

Lopa juga dikenang oleh teman – temannya sebagai pribadi nya yang sangat religius. Beliau tidak pernah mengenal ataupun pergi ke Mall, yang hanya ia kenal adalah pasar.

Bahkan, di hari raya ia selalu menolak pemberian parcel entah dari siapapun meski itu dari teman dekatnya sendiri. Baharudin Lopa takut pemberian itu suatu saat akan dikasuskan.

Nyawanya Sempat Terancam Karena Menangani Kasus Besar.

Kasus terbesar yang pernah ditangani oleh Baharudin Lopa ialah kasus korupsi Soeharto. Pada saati itu ia menjabat sebagai sekretaris jendral KOMNAS HAM. Lopa selalu menanyakan kemajuan proses perkara kepada teman – temannya dikejaksaan agung. Soeharto sering sering dipanggil, tapi selalu absen dengan alasan sakit.

Meski begitu, ia berhasil meringkus salah satu sahabat Soeharto yakni Bob Hasan. Bob Hasan merupakan seorang pengusaha bisnis kayu dan mantan mentri perindustrian. Baharudin Lopa berhasil memasukkan bob kedalam lembaga permasyarakatan (LP) Nusakambangan. Dimana pada saat itu Soeharto sedang memimpin dan bisa saja nyawa Lopa terancam.

Presiden RI Ke-2 Soeharto (kiri)

Baharudin Lopa juga pernah memidanakan salah satu tokoh tionghoa Makasar bernama Tony Gozal. Tony Gozal pernah terlibat kasus dugaan manipulasi dana reboisasi tahun pada tahun 1982. Namun sial bagi Lopa, sebelum menyelesaikan kasus tersebut Lopa malah dimutasi menjadi Staf ahli menteri kehakiman tahun 1986.

Selepas kejadian tersebut Soeharto tahu betul pergerakan Lopa akan sangat membahayakan kekuasaanya. Maka di tahun 1988 hingga 1995, Lopa hanya ditugaskan sebagai Direktur Jenderal Lembaga Permasyarakatan. Sehingga Loppa tidak disibukkan lagi dalam mengusut kasus hukum.

Lopa pernah mengatakan, bahwasannya ia selalu terinspirasi dari kisah ketua adat di daerahnya. Sang ketua adat ini berani menghukum anaknya sendiri atas nama keadilan.

Akhir tahun 1930 di Balangnipa, seorang pemuda terlibat kasus pembunuhan. Menurut hukum adat, nasib pemuda ini bisa ditentukan oleh 7 pemuka adat.

Enam dari tujuh pemuka adat setuju memberi keringanan untuk anak ketua adat yg terlibat pembunuhan ini. Namun, sang ketua adat sendiri yg tidak setuju. Alhasil anak ini pun dihukum mati sesuai hukum yang berlaku di daerahnya.

Cerita yg tak kalah hebat datang dari Ratu Sima yg memotong kaki anaknya sendiri atas nama hukum. Tentu Lopa sangat terinspirasi.

Hidup Sederhana Bagaimanapun Keadaannya

JK yg saat itu masih menjadi pebisnis mobil pernah ditelefon Lopa. Baharudin Lopa mengatakan ingin membeli mobil sedan kelas satu. JK kemudian menawarkan mobil Toyota Crown seharga 100jt saat itu. Tapi Lopa malah menolak, JK kemudian menawarkan mobil Cressida seharga 60jt. Alhasil Lopa tetap kembali menolaknya.

Tak sampai disitu, JK kembali menawarkan Corona dengan cuma cuma kepada Lopa (yg saat itu harganya 30jt), tapi Lopa masih saja menolak tawarannya. Kemudian JK menawarkan membeli hanya dengan harga 5jt saja, tetap saja Lopa kukuh menolak tawaran itu.

Lopa kemudian meminta Corona 30jt dengan sistem menyicil. Bukan karena tidak punya uang, ia hanya ingin hidup sederhana.

Baharudin Lopa via Liputan6.com

Enang, salah satu ajudan Lopa mengatakan, pernah suatu hari Lopa ingin menghadiri salah satu kegiatan besar. Namun saat itu, ia lupa membawa sepatu dan kaus kaki (karena hanya memakai sandal). Lopa kemudian meminjam sepatu dan kaus kaki milik Enang untuk pergi ke acara tersebut.

Salah Satu Tiang Indonesia Telah Runtuh

Saat era Presiden Habibie, Baharudin lopa didukung untuk menjadi anggota komnas HAM Dubes (Duta Besar) RI tahun 1999. Namun saat lengser dari jabatan itu, diketahui beliau memiliki masalah kesehatan di jantungnya. Padahal saat menjabat Jaksa Agung, Lopa sedang mengusut 7 masalah korupsi besar.

Laws Quotes

Tanggal 28 Juni 2001, Lopa beserta Istrinya melaksanakan umrah ke tanah suci Mekkah. Dimana pada tanggal 26 Juni sebelumnya sudah serah terima jabatan dengan kedubes RI untuk Saudi.

Kemudian tepat di tanggal 29 Juni, Lopa terganggu fisiknya. Tak lama kemudian esoknya beliau langsung dilarikan ke rumah sakit jam 13.00 waktu setempat setelah mual mual hebat.

Pada malam harinya di istana negara, sebelum mendapat kabar bahwa Lopa akan meninggal Gusdur menangis semalaman dan mengurung diri di kamar.

Tak ada satupun ada yg tahu sebabnya, termasuk anak anaknya. Gusdur kemudian berucap: ” Malam ini, salah satu tiang langit bumi Indonesia telah runtuh,”

Benar saja pada pukul 11 malam, istana mendapat kabar dari Saudi bahwa Lopa telah tiada. Bukti ini menunjukkan kejernihan hati Gus Dur bisa menangkap sebuah kejadian luar biasa yg belum terjadi. Kabar wafatnya Lopa 3 jam lebih awal diterima Gus Dur dari pada berita duka tersebut.

Gus Dur

Almarhum jaksa Agung Baharuddin Lopa kemudian dimakamkan di taman makam pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Tepat pukul 09.15 WIB, Jumat 6 Juli 2001. Upacara pemakaman sendiri dipimpin oleh inspektur upacara Menko Polsoskam Jendral (Purn) Agum Gumelar serta dihadiri pula oleh Gus Dur.

Sayangnya kehendak tuhan lebih awal dalam memanggil Jaksa Agung ini tatkala rakyat sangat membutuhkan keberaniannya. Lopa telah menetapkan standar yang tinggi bagi para Jaksa dalam menegakkan keadilan. Dia mewariskan keberanian penegakan hukum tanpa melihat siapa dan apa orang tersebut.