Kasus Pembulian Hanya Dianggap Guyonan Dan Bercandaan Seorang Anak, Cukup Adil kah?

Kepoh-kepoh (Bogor) – Baru-baru ini atau seminggu terakhir ini beredar di dunia maya tentang pembulian seorang pelajar SMPN 16 Kota Malang.

Yang menjadi pertanyaannya, mengapa kisah pembulian ini tidak seviral berita pembulian seperti sebelum-sebelumnya?, contoh seperti berita pembulian gadis kecil bernama Audrey.

Muat Lebih

Memang penanganan kasus pembulian ini sangat tidak stabil dan selalu tidak tuntas karena selalu berujung damai. Yang menjadi persoalan disini, apakah pihak keluarga korban bisa merasakan kedamaian seperti yang diharapkan keluarga pelaku? Atau malah sebaliknya? Ataukah ada acara lain untuk menangani kasus ini?

Saya beranggapan bahwa kasus pembulian terhadap anak selalu dianggap hal remeh oleh para penegak hukum. Padahal, jika kita ingin renungkan, bagaimana rasanya masa depan seorang anak terenggut dengan diamputasi jarinya?

Apakah penegak hukum hanya bersikap diam dan memaafkan pelaku ?

Karena menurut saya keadilan harus tetap ditegakkan. Berdasarkan dengan UU Republik Indonesia No39 Tahun 1999 Pasal 29 dan 33 Tentang Hak Asasi Manusia.

Saya berfikir jika penanganan kasus ini tidak diadili secara serius, mungkin tingkat pembulian yang terjadi akan terus bertambah.

Karena tidak ada rasa jera bagi pelaku jadi pelaku hanya beranggapan

ah nanti juga dimaafkan dan selesai

Sumpah, proses hukum seperti ini tidak akan membuat jera pelaku pembulian.

Lantas, jika seperti itu siapa yang mesti disalahkan? Pihak Sekolah kah? Orang tua kah? Atau pelaku pembulian itu sendiri? Atau memang kita cukup terlambat dalam membentuk karakter anak sedari usia dini?

Jika kita menarik titik permasalahan yang ada, masalah pembulian ini sering terjadi di jenjang pendidikan setingkat SD sampai SMA. Disini saya melihat beberapa kebobrokan dalam manajemen pendidikan di Indonesia,

Apakah pihak sekolah tidak pernah mengajarkan arti sebuah solidaritas? Atau memang kesalahan ini terjadi akibat pendidikan dari Orang Tua?

Kita tahu bahwa pendidikan pertama (Madhrasatul Ula) yang didapat dari seorang anak adalah pendidikan dari orang tua (Rumah), selanjutnya akan dilanjutkan oleh pihak sekolah.

Seharusnya dalam pendidikan awal seorang anak (Tharbiyyatul Athfal) perlu ditanamkan nilai-nilai moral agar kelak ketika anak itu tumbuh menjadi pribadi yang bermoral dan berakhlak baik.

Jika kita bandingkan system pendidikan Indonesia dengan Jepang itu sangat jauh berbeda. Pasalnya ketika negara kita berlomba-lomba untuk meningkatkan akademis anak sejak dari Taman Kanak-kanak (TK).

Sedangkan Negara Jepang justru memberikan pendidikan moral kepada anak terlebih dahulu baru memberikan nilai-nilai akademis dan spiritual.

Tidak ada salahnya kita mencontoh system pendidikan seperti itu, minimal dalam skala pendidikan rumah.

Walapun system pendidikan sekolah kurang dalam menangani masalah moral, setidaknya untuk para orang tua mulai serius dalam menumbuhkan moral anak yang bagus. Karena sekolah tidak 24 Jam mengurusi anak, dan orang tua sudah tentu 24 Jam berada dirumah.

Mungkin secara mekanisme pendidikan negara kita cukup maju dalam hal akademis. Sudah banyak WNI yang belajar sampai ke Negri tetangga bahkan Eropa.

Akan tetapi amat disayangkan bahwa kita masih minim soal moral. Padahal, orang terdahulu kita, para pahlawan, terkenal dengan kesopanan dan moralitas yang tinggi.

Mungkin inilah menurut saya sebagai salah satu cara meringankan tingkat pembulian pada anak, tolong jangan pernah menganggap remeh pembulian ini, karena dampaknya akan besar bagi kehidupan anak setelahnya jika masalah ini hanya dianggap sebatas guyonan belaka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *