Kepohin NINGSIH TINAMPI,Siapa? Sosok Viral Pengobatan Alternatif di Pasuruan

Jatim (Kepohkepoh.com) – Siapa Ningsih Tinampih ? Sosok di balik pengobatan alternatif di Pasuruan. jadi Video Viral  Youtube.

Nama Ningsih Tinampi yang dikenal sebagai sosok di balik pengobatan supranatural kian heboh belakangan ini.

Muat Lebih

Setiap unggahan video melalui akun Youtube @ningsihtinampi ditonton hingga berjuta-juta netizen.

Bahkan, satu unggahan Ibu Ningsih, sapaannya, saat terapi pasien ada yang ditonton lebih dari 10 juta.

Ningsih Tinampi atau Ibu Ningsih adalah perempuan yang membuka praktik pengobatan alternatif di Jl Raya Lebaksari, Karang Kepuh, Karang Jati, Kecamatan Pandaan,Pasuran, Jawa Timur.

Dari video-videonya bisa dilihat bagaimana banyaknya orang mendatangi tempat pengobatan Ningsih Tinampi.

Bu Ningsih lalu mengunggah video-video saat mengobati pasien yang rata-rata kesurupan itu.

Video Viral menampilkan adegan mendebarkan saat Ningsih Tinampi berusaha berkomunikasi dengan “mahluk halus” yang ada di dalam video itu.

Saat berkomunikasi dengan orang yang kesurupan, Ningsih menyebut mahluk yang menguasai tubuh pasiennya dengan sebutan dukun.

“Kenapa? capek?. Kamu dukun dari mana? Duh sombong amat. Amat aja nggak sombong. Dukun aja sombong. Kita sama-sama dukun,” kata Buk Ning dalam sebuah video unggahannya.

Banyak netizen yang berdebat mengenai Ningsih ini. Ada yang percaya ada yang tidak.

Silkan Anda nilai sendiri dengan melihat unggahan-unggahan videonya.

Bagi yang percaya dengan hal-hal metafisik dan klenik tentu memercayainya. Namun sebagian lagi ada yang tak percaya.

Fenomena Ningsih dan Ponari

Fenomena Ningsih Tinampi yang tampil sebagai dukun yang menawarkan pengobatan alternatif ramai menjadi pembicaraan masyarakat.

Pasalnya, kegiatan “pengobatan” yang dilakukan mengikuti perkembangan dunia digital.

Ya,Ningsih Tinampi melalui channel Youtube-nya kerap menampilkan video yang memperlihatkan bagaimana ia melakukan pengobatan kepada pasien-pasiennya.

Dari beberapa video, Ningsih Tinampi terlihat melakukan pengobatan untuk pasien-pasien yang terkena pengaruh santet di dalam tubuhnya.

Ia kerap tampil dalam video seolah sedang menginterogasi makhluk halus.

Dari beberapa judul videonya, juga menarasikan bahwa dirinya tengah melawan dukun santet.

Akun Youtube Ningsih Tinampi pun, hingga, Senin (16/9/2019) berdasarkan pantauan Kompas.com memiliki pengikut lebih dari 1,2 juta subscriber.

Beberapa postingan yang diunggah oleh beberapa Youtuber lain juga menunjukkan bagaimana dukun dari Jawa Timur ini memiliki jumlah pasien yang banyak jumlahnya.

Dari beberapa postingan yang terdapat di Youtube , terlihat pasien harus berdesak-desakan untuk mengantri berobat.

Fenomena pengobatan alternatif yang ramai dikunjungi masyarakat sebenarnya bukan kali ini saja terjadi.

Sekitar tahun 2009, Indonesia juga dihebohkan oleh Ponari , dukun cilik yang ketika itu dipercaya bisa menyembuhkan melalui air yang dicelup dengan batunya.

Saat itu orang berbondong-bondong untuk datang ke lokasi di mana Ponari berada guna mencari kesembuhan.

Fenomena Ponari dan Ningsih Tinampi menunjukkan, bagaimana sebagian masyarakat masih mempercayai pengobatan alternatif dari ahli supranatural ataupun dukun.

Bahkan, di tengah jaman yang semakin modern dan perkembangan internet semakin handal, dukun masih begitu digandrungi.

Dr Sunu Wasono, Budayawan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menilai, seseorang di zaman sekarang masih mempercayai dukun karena masyarakat Indonesia sedari dulu memang memiliki keyakinan terhadap pengobatan non-medis di samping pengobatan medis yang ada.

Adapun kepercayaan itu, sudah mengakar di tengah masyarakat

“Makanya pengobatan alternatif masih mendapatkan tempat,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Senin (16/9/2019).

Masyarakat akan mempercayakan kepada “wong pinter” seperti dukun, dan paranormal untuk sampai pada suatu kesimpulan bahwa penyakit yang diderita pasien bukanlah penyakit medis.

Ia menilai, segala keyakinan terhadap pengobatan alternatif tersebut mengakar karena sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat.

Sumber : Tribun-timur.com
Editor: Aqsa Riyandi Pananrang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *